Solar Rooftop, Solusi Penghematan Biaya Listrik yang Ramah Lingkungan

Solar Rooftop, Solusi Penghematan Biaya Listrik yang Ramah Lingkungan

Bukan hal yang aneh jika pemerintah berinisiatif untuk mencabut sebagian subsidi listrik, sebab sudah sewajarnya subsidi dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan saja. Meskipun TDL di Indonesia tidak tergolong mahal mengingat Indonesia yang terdiri dari negara kepulauan, sehingga membutuhkan biaya infrastruktur yang besar untuk dapat mengalirkan listrik ke seluruh daerah, peningkatan secara bertahap Tarif Dasar Listrik tentunya akan tetap terjadi dan menjadi beban finansial yang terus bertambah bagi konsumen di masa yang akan datang. Kenaikan TDL bisa disebabkan oleh penambahan infrastruktur listrik dan perubahan kebijakan seperti Carbon tax, peningkatan BPP dan beberapa penyebab lain. Di dalam tulisan ini disajikan TDL yang menjadi parameter untuk menentukan kondisi yang tepat dalam penggunaan solar Panel di Indonesi

Solar panel menjadi solusi yang menarik karena bukan hanya efek Green Energy yang dinilai positif untuk pengaruh iklim dunia tetapi juga pada sisi ekonomi yang diharapkan dapat membentuk sudut pandang baru bahwa solar panel dapat menjadi solusi penghematan sumber energi dengan harga yang bersaing. Hal ini dapat dilihat dari penjabaran perbandingan nilai ekonomis antara sumber listrik komersil (PLN) dengan Distributed Source (Solar Panel).

Gambar 1 – Tariff Adjusment Juni 2017

Peningkatan tarif listrik untuk pelanggan 900VA, disebabkan oleh adanya pengalihan dana subsidi listrik ke ranah yang menyangkut kesehatan karena menurut pemerintah, pengalihan ini dirasa lebih tepat guna. Adanya isu penyesuain tarif setelah Juli 2017 untuk golongan non-subsidi juga menjadi hal yang menarik karena lagi-lagi kenaikan tarif mungkin akan diterapkan. Selain itu, peraturan menteri ESDM No 31 Tahun 2014 juga menjadi salah satu faktor ketidakpastian tarif listrik di masa yang akan datang. Tanpa terlepas dari ketidakpastian tarif listrik ini, ada fakta menarik yang ditawarkan oleh Solar Energi yang akhir-akhir ini mulai terdengar gaungnya.

Dari referensi tautan di atas, tarif listrik untuk 900VA Non subsidi adalah Rp1352,00 dan untuk rumah tangga 1300VA ke atas adalah Rp1467,28. Jika dihitung berdasarkan kebutuhan sehari-hari yang umum digunakan oleh rumah tangga maka didapatkan rata-rata Energi yang digunakan adalah sebagai berikut:

Gambar 2 – Perangkat umum yang digunakan di rumah tangga

Artinya pernggunaan listrik total selama 24 jam menjadi 9320 Watt Hour dan dalam satu bulan konsumsi energi listrik menjadi 279,6 kWh. Jika nilai tersebut dikonversi dalam bentuk rupiah maka untuk tarif pelanggan listrik Rp1352,- akan setara dengan nilai Rp378.020/Bulan. Dalam jangka waktu 10 tahun, total tagihan listrik yang harus dibayarkan oleh rumah tangga tersebut adalah Rp45.362.304,00. Nilai tersebut akan cenderung meningkat jika peningkatan TDL terus diberlakukan.
Pada dasarnya penggunaan solar panel untuk saat ini akan membutuhkan investasi yang lebih besar dibanding penggunaan listrik dari Utility (PLN). Perhitungan sederhana bisa dilihat dibawah ini:

Gambar 3 – Spesifikasi dan Harga dari perangkat Utama

Perangkat diatas merupakan modul utama dalam membuat sebuah PLTS yang dipasang pada rooftop. Jumlah dari masing-masing perangkat variatif bergantung pada energi yang ingin diproduksi. Jika ingin menghasilkan nilai yang sama dengan contoh diatas (9320 Watt Hour) maka dibutuhkan sekitar 15 Panel, 12 Battery, 1 buah controller, dan 1 buah inverter. Total nilai investasi menjadi Rp68.500.000,00 dengan luas lahan rooftop yang dibutuhkan sekitar 15m2.

Nilai selisih antara kedua investasi tersebut berkisar pada angka Rp23.000.000,00. Komponen biaya terbesar disebabkan oleh dua peralatan utama yaitu Battery dan Panel Surya. Hal yang menarik dari kedua komponen ini adalah harganya yang semakin menurun serta fungsinya yang bersifat opsional (khusus Battery). Dua poin tersebut memiliki pengaruh besar pada nilai investasi solar panel ke depannya.

Berikut beberapa faktor yang dapat menjadikan solar panel sebagai solusi energi saat ini dan di masa yang akan datang:

A. Faktor penyebab peningkatan TDL (Tarif Dasar Listrik) dari Utility (PLN). Seperti poin yang sudah disinggung pada paragraf pertama, peluang peningkatan TDL akan semakin besar karena cepat atau lambat peningkatan jumlah infrastruktur listrik seperti tiang, kabel, dan gardu hubung harus terus dilakukan. Energi listrik memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan ekonomi masyarakat.

Rasio elektrifikasi Indonesia tahun ini masih berada pada angka 88% sedangkan target yang ingin dicapai oleh PLN adalah 97%. Rasio elektrifikasi merupakan perbandingan jumlah masyarakat yang memiliki akses listrik terhadap total masyarakat di suatu negara. Indonesia merupakan negara yang sangat luas sehingga peradaban masyarakat pun tersebar di seluruh pelosok negeri. Hal ini yang menjadi hambatan PLN untuk dapat meningkatkan rasio elektrifikasi karena biaya peningkatan elektrifikasi tidak sebanding dengan pemasukan yang didapatkan dari penduduk yang berada jauh dari pusat kota. Oleh sebab itu, salah satu solusi yang memungkinkan adalah peningkatan TDL (Tarif Dasar Listrik) agar dapat menutupi biaya pembangunan infrastruktur tersebut. Secara tidak langsung biaya peningkatan elektrifikasi akan dibebankan kepada seluruh masyarakat yang memiliki akses terhadap energi listrik.

Nilai TDL juga dipengaruhi langsung oleh Biaya Pokok Penyediaan (BPP). Peningkatan dan penurunan BPP akan berbanding lurus dengan TDL. Nilai BPP sendiri dipengaruhi oleh Inflasi, nilai tukar rupiah, dan harga minyak Indonesia (ICP) seperti tercantum pada PERMEN ESDM No 31 Tahun 2014. Ketika peningkatan TDL menyentuh angka (Lebih kurang) Rp2000,00/kWh maka penggunaan solar panel di Indonesia akan berkembang dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan oleh nilai investasi untuk solar panel akan sebanding dengan listrik dari Utility (PLN). Migrasi ini akan semakin dini ketika R&D pada solar panel yang dilakukan oleh banyak negara memberikan hasil yang baik sehingga dapat menurunkan harga jual atau meningkatkan efisiensi yang berujung pada semakin rendahnya biaya produksi listrik yang dihasilkan oleh Solar Panel.

B. Faktor penurunan harga komponen utama solar panel yang cenderung didominasi oleh pabrik dari negri tiongkok. Pada poin sebelumnya sudah disinggung bahwa R&D pada solar panel terus dilakukan dengan berbagai inovasi. Beberapa perusahaan asal Amerika tertarik untuk terus meningkatkan efisiensi solar panel hingga (saat ini) mencapai angka 50%, perusahaan Tiongkok cenderung menekan biaya produksi dengan melakukan produksi masal menggunakan local raw material, sementara Australia berfokus pada inovasi material pendukung pada solar panel (menggunakan sejenis kertas sebagai pengganti panel) untuk menurunkan production cost tanpa mengesampingkan produksi listrik itu sendiri. Hasilnya, biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik dari solar panel semakin menurun.

C. Peraturan Direksi PLN No. 0733.K/DIR/2013 dan Edaran Direksi PLN No. 0009.E/DIR/2014 membuka kesempatan kepada masyarakat untuk dapat lebih tertarik dengan pemanfaatan solar panel. Masyarakat diizinkan untuk menjual energi listrik yang dihasilkan oleh solar rooftop (Solar Panel yang dipasang di atap rumah) kepada PLN. Sebagai gantinya PLN akan memotong tagihan listrik pelanggan tersebut bergantung pada jumlah energi yang disuplai oleh solar rooftop yang terpasang. Tentunya terdapat persyaratan teknis yang harus dipenuhi seperti penggantian jenis metering dan standard listrik yang diproduksi oleh solar rooftop. Namun dengan adanya peraturan ini, masyarakat tidak lagi terbebani dengan tingginya harga battery karena energi yang dihasilkan oleh Solar rooftop dapat langsung dikirimkan ke PLN. Dengan tidak digunakannya battery, nilai investasi solar rooftop pun berkurang dari 68.500.000,00 menjadi sekitar Rp50.500.000,00 (Belum termasuk migrasi metering). Nilai ini tidak jauh berbeda dengan tagihan listrik yang dikonsumsi selama 10 tahun untuk energi listrik yang sama. Bahkan konsumen dapat lebih menghemat pengeluaran karena terdapat pengurangan nilai tagihan yang disebabkan oleh transfer energi listrik yang dihasilkan oleh Solar Rooftop.

Gambar 4 – Ilustrasi Net Metering yang Dilakukan PLN

Dari beberapa faktor diatas dapat kita simpulkan bahwa cepat atau lambat solar panel akan menjadi salah satu bentuk investasi yang baik untuk konsumen residensial. Selain disebabkan oleh besarnya dorongan pemerintah, adanya faktor pendukung lain seperti semakin menurunnya harga material utama dan meningkatnya TDL juga memberikan kontribusi besar pada akselerasi penggunaan solar panel. Hanya saja, perlu dilakukan pengkajian ulang terkait pembatasan jumlah maksimal solar panel pada suatu daerah mengingat akan berpengaruh pada operasi distribusi listrik jika solar panel menyuplai lebih dari 10% kebutuhan listrik disuatu daerah tanpa adanya kontrol. Dengan diberlakukannya pembatasan, tentunya masyarakat akan semakin terpacu untuk menilik kesempatan berinvestasi pada sektor energi khusunya solar panel.

 

Artikel ini ditulis oleh: Tatas Aji

1Comment
  • Afif Fadhilah
    Posted at 07:21h, 13 Januari Balas

    Sangat cocok diterapkan di Indonesia saat ini. Di antara poin penting dari aplikasi solar roof top juga yaitu apabila diterapkan pula di daerah-daerah yang belum teraliri listrik, maka praktis akan meningkatkan rasio elektrifiasi yang dihendaki oleh PLN (sekalipun tidak berasal dari suplai PLN itu sendiri). Tinggal menunggu pola sosialisasi yang tepat dari para aktivis energi.

Post A Comment