Renewable Energy Camp: Wadah anak muda untuk belajar dan bertukar pikiran tentang energi terbarukan

Renewable Energy Camp: Wadah anak muda untuk belajar dan bertukar pikiran tentang energi terbarukan

Energi terbarukan merupakan topik yang sedang menjadi sorotan saat ini. Meksipun penemuan energi terbarukan seperti energi air dan angin sudah ditemukan dari dahulu, namun isu energi terbarukan ini menjadi naik kembali setelah adanya isu perubahan iklim. Bagaimana tidak, perubahan iklim sebagian besar disebabkan oleh polusi yang berasal dari pemanfaatan energi, baik itu dari segi pembangkit listrik seperti batubara dan minyak ataupun dari segi transportasi. Oleh karena itu, energi terbarukan menjadi energi alternatif yang solutif menjawab masalah yang ada di dunia. Pengutamaan menggunakan energi terbarukan juga dicantumkan oleh PBB, yaitu dalam Sustainable Development Goals (SDGs) di poin nomor 7.

Energi terbarukan dan Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar didunia, dengan jumlah pulau lebih dari 13 ribu pulau, harus memenuhi kebutuhan energi di setiap pulaunya. Pulau-pulau ini memiliki karakteristik potensi energi yang berbeda-beda yang dapat dimanfaatkan. Energi terbarukan menjadi solusi yang paling memungkinkan dibandingkan energi lainnya, karena setiap pulau memiliki potensi energi terbarukannya masing-masing dan dapat dimanfaatkan dengan skala kecil.

Tren memilih energi terbarukan ini juga dirasakan oleh anak-anak muda di Indonesia. Peralihan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan menjadi ketertarikan tersendiri bagi kaum muda karena mereka yang terkena dampak dari pemanasan global itu sendiri. Banyaknya anak muda yang tertarik dengan energi terbarukan, tidak diikuti dengan adanya wadah untuk berdiskusi dan bertukar pikiran, menjadikan anak muda tidak dapat mendalami keingintahuannya. Hal-hal tersebut lah yang menyebabkan anak-anak muda yang tergabung dalam yayasan Institut for Clean and Renewable Energy (ICARE) membentuk acara Renewable Energy Camp.

Renewable Energy Camp (REC) adalah suatu rangkaian kegiatan pembekalan energi terbarukan untuk anak-anak muda selama 3 hari. Renewable Energy Camp juga merupakan acara pertama di Indonesia yang dimaksudkan untuk anak-anak muda belajar dan bertukar pikiran mengenai energi terbarukan sebagai solusi alternatif energi di Indonesia. Energi terbarukan yang menjadi fokus dalam Renewable Energi Camp antara lain adalah energi matahari, energi angin, energi air dan energi biomassa. REC diadakan pada tanggal 9 – 11 Februari 2018, di Sentul Bogor. Acara ini diikuti oleh 100 anak muda yang terdiri dari rentang umur 16 – 36 tahun, dengan densitas terbanyak pada umur 20 – 27 tahun. Sementara latar belakang peserta juga berbeda-beda, mulai dari mahasiswa, fresh graduated hingga pekerja professional baik yang berkaitan dengan energi maupun tidak. Meskipun peserta paling banyak berasal dari Jabodetabek, namun tidak sedikit peserta berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan hingga Riau yang turut bergabung sebagai peserta di Renewable Energy Camp. Semua berkumpul untuk bersama-sama belajar mengenai energi terbarukan dari topik yang umum hingga khusus sesuai dengan bidang yang peserta pilih.

Renewable Energy Camp diselenggarakan dengan metode yang cukup cocok bagi anak-anak muda, dimana peserta dibawa jauh dari perkotaan, ke sebuah kompleks villa di Sentul Bogor, yaitu di Richie the Farmer. Peserta disebar ke beberapa rumah kecil disekitar kompleks tersebut untuk tinggal bersama dengan peserta-peserta yang lainnya. Kemudian para peserta diberikan kegiatan berupa olahraga pagi dan diskusi dengan dengan peserta-peserta lainnya. Meskipun acara ini merupakan acara pertama, renewable energy camp secara menganggumkan mampu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti General Electric (GE), Adyawinsa Telecomunications & Elctrical, Dalle Energy, Waskita, PP Energy. Adapun sebagai media partner berasal dari Janaloka, Radio Kampus ITB, Event Hunter Indonesia, Warung Energi, Anak Teknik Indonesia, dan Priskop.

 

Para ahli dan aktivis energi terbarukan turut berpartisipasi

Renewable Energy Camp semakin menarik dengan adanya pembicara yang terdiri dari para ahli dan aktivis di bidang energi terbarukan. Tema perkembangan energi terbarukan di dunia diisi oleh Pak Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia dan materi perkembangan energi terbarukan di Indonesia diberikan oleh Ibu Ida Nuryatin, Direktur Panas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kemudian pada tema kebijakan energi terbarukan diberikan oleh Pak Fabby Tumiwa, Executive Director IESR. Ibu Tri Mumpuni atau sering terkenal dengan Wanita Listrik, membagikan pengalamannya dalam mengembangkan desa mandiri energi menggunakan energi terbarukan. Peserta juga diberikan wawasan mengenai energi terbarukan secara on-grid dan off-grid oleh Pak Nur Pamudji, Ketua Dewan Pembina PPLSA dan mantan Direktur Utama PLN. lalu diakhiri dengan sharing session tentang masa depan energi terbarukan oleh Pak Ahmad Kalla, Presiden Direktur PT Bukaka Teknik Utama, Tbk.

Panita dan Pembicara di acara Renewable Energy Camp (REC). Paling kiri – kanan; Aditya (ICARE), Yan Yan (ICARE), TML Energy, Rumah Energi, Pasadena, UPC, Adyawinsa, IBEKA, LAN, Ibu Tri Mumpuni, Poso Energi, Ibrahim (ICARE)

 

Acara yang berlangsung selama 3 hari juga tidak hanya diberikan kelas yang membahas topik secara umum, namun terdapat kelas dengan topik khusus sesuai dengan bidang energi terbarukan, yaitu kelas energi matahari, kelas energi angin, kelas energi air dan kelas energi biomassa. Peserta diminta memilih untuk masuk kelas sesuai dengan minatnya. Di dalam kelas, peserta mendapatkan gambaran umum dan dasar-dasar teknis secara teori untuk setiap energinya. Dengan forum lebih kecil, peserta dapat mendalami lebih jauh mengenai energi tersebut. Kelas energi matahari diberikan oleh perwakilan dari TML energi dan Adyawinsa Telecomunications & Elctrical. Kelas energi angina diberikan oleh UPC Renewables dan Lentera Angin Nusantara, sementara kelas energi air diisi oleh Poso Energi and IBEKA. Sedangkan kelas energi biomasa diberikan oleh Pasadena dan Rumah Energi.

Selama acara berlangsung, peserta dibagi ke dalam 10 kelompok yang terdiri dari 10 orang dengan komposisi perwakilan dari setiap kelas energi. Kelompok tersebut berfungsi untuk peserta berdiskusi lebih jauh mengenai materi dan wawasan yang mereka dapat dengan lebih kondusif dan intensif. Kelompok ini juga sebagai wadah peserta untuk berbagi ilmu dari kelas-kelas lainnya yang peserta lain tidak dapati. Setiap kelompok juga didampingi oleh fasilitator yang memiliki pengalaman di bidang energi terbarukan. Sehingga peserta dapat memahami keempat bidang energi terbarukan meskipun mereka hanya diperbolehkan mengikuti 1 bidang di kelas kecil dan dapat berdiskusi lebih lanjut kepada fasilitator.

 

Berlomba menyelesaikan masalah energi di Indonesia

Pada hari terakhir, peserta diberikan sebuah studi kasus untuk memberikan solusi bagi suatu daerah yang memiliki potensi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan namun tidak memiliki akses energi. Studi kasus ini terdapat di dua daerah di Indonesia, dimana peserta diminta untuk memilih sesuai kesepakatan kelompoknya. Kemudian peserta diberikan waktu untuk berdiskusi selama 3 jam dengan teman kelompoknya, bagaimana caranya menyelesaikan masalah energi di daerah tersebut dengan modal yang sudah ditentukan sejak awal. Peserta dan kelompoknya bisa berkonsultasi dengan fasilitator untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dengan data dan dana yang tersedia di masing-masing kelompok. Peserta terlihat sangat menikmati diskusinya dan menerapkan ilmu dan wawasan yang sudah mereka dapatkan hari-hari sebelumnya. Dinamika kelompok juga sangat terlihat di masing-masing kelompok.

Peserta sedang berdiskusi mencari solusi dari studi kasus yang diberikan di acara Renewable Energy Camp (REC)

 

Setelah waktu yang diberikan habis, para peserta diminta untuk presentasi kepada para peserta lainnya serta para juri yang merupakan fasilitator kelompok dengan keahliannya di bidang energi masing-masing. Peserta memaparkan masing-masing solusi untuk memenuhi kebutuhan energi daerahnya sesuai potensi. Beberapa kelompok merasa bahwa energi air sudah cukup, namun beberapa ada yang merasa tetap membutuhkan energi matahari dan angin. Inovasi penggunaan energi biomasa dari mulai kotoran ternak hingga manusia juga dicetuskan sebagai solusi di daerah tersebut. Begitu pula dengan pemanfaatan energi, ada yang memberikan pemanfaatan hanya untuk penerangan dan kebutuhan rumah tangga, hingga ada yang memberikan fasilitas umum serta mesin-mesin untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Setiap kelompok presentasi dinilai dengan parameter-parameter yang sudah ditentukan sebelumnya. Penilaian tersebut ditentukan dari bagaimana setiap kelompok dapat berpikir dan mengerjakan kasus dengan cara berpikir yang tepat, lalu bagaimana cara menghitung potensi hingga daya yang dihasilkan, kemudian bagaimana pengaturan keuangannya dna yang paling terakhir adalah bagaimana energi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat daerah tersebut. Hingga akhirnya dari kesepuluh kelompok tersebut terdapat 2 kelompok terbaik dengan solusi yang dirasa paling tepat sasaran untuk daerah di Indonesia.

Perwakilan kelompok terbaik dalam memecahkan solusi di studi kasus di acara Renewable Energy Camp (REC)

 

Anyway great event! First, I don’t think the event will be this good somehow. But, it has exceeded my expectation. Great job for the committee and all volunteers! I will recommend this foundation to increase the awareness of renewable energy!” kata salah satu peserta Renewable Energy Camp, Rio Ronald Hasudungan, peserta Kelas Matahari.

Komentar juga datang dari salah satu pembicara Renewable Energy Camp. “Saya surprise I CARE bisa mengumpulkan anak muda sebanyak ini, dengan segmen usia yang sangat tepat untuk mendapatkan message mengenai energi terbarukan. Energi terbarukan akan menjadi sumber energi kita di masa depan jadi kalo sampai generasi-generasi muda ini tidak memikirkan renewables, mereka akan menghadapi persoalan di masa depan karena fossil pasti akan habis.” Kata Pak Nur Pamudji, Ketua Dewan Pembina PPLSA.

Latar belakang dan asal daerah peserta yang tersebar dari berbagai daerah diharapkan dapat memberikan wawasan dan solusi untuk pemberian akses energi di daerah-daerah yang masih belum memiliki cukup energi. Renewable energy camp juga diharapkan dapat memberikan motivasi dan wadah bagi anak-anak muda untuk belajar mengenai energi terbarukan.

No Comments

Post A Comment