Kopi Sore #8 – Residential Solar Rooftop

Kopi Sore #8 – Residential Solar Rooftop

Kamis 11 Januari 2018, I CARE Indonesia bekerja sama dengan TML Energy (PT Tritama Mitra Lestari) mengadakan Kopi Sore dengan topik ‘Residential Solar Rooftop’.

Kopi Sore dibuka dengan materi pengenalan solar rooftop, yang dibawakan oleh Wahyu Parbowo selaku Engineer di TML Energy. Seperti yang kita tahu, banyak energi yang dapat dimanfaatkan untuk dikonversikan menjadi energi listrik baik dari non renewables maupun renewables. Perbedaan energi surya dengan energi kebanyakan, adalah energi surya tidak memutar turbin untuk dapat menghasilkan listrik. Dari matahari, kita dapat memanfaatkan dua jenis energi yaitu panas (contoh: untuk memanaskan air) dan cahaya matahari (contoh: penggunaan photovoltaic (PV) untuk menghasilkan listrik).

Wahyu menjelaskan bahwa materi yang biasa digunakan untuk membuat PV adalah silicon dan listrik yang dihasilkan dari PV adalah listrik DC. Berdasarkan terminologi PV, panel adalah sekumpulan sel-sel yang telah dirakit yang biasanya dapat ditemukan di pasaran. Sedangkan array terdiri dari sekumpulan panel yang kemudian akan digabung dengan komponen lain untuk menghasilkan listrik.

Wahyu mengungkapkan bahwa berbagai bahan penyusun PV memiliki efisiensi yang berbeda-beda. Efisiensi disini adalah seberapa persen sel surya dapat mengkonversikan radiasi matahari menjadi energi listrik per satuan luas sel surya. Berdasarkan riset, efisiensi sebesar 25% telah dicapai oleh sel surya jenis monocrystalline. Tetapi, sel surya yang saat ini dijual di pasaran memiliki efisiensi yang berkisar antara 15-20%. Di pasaran saat ini, polycrystalline sudah lebih banyak dari monocrystalline. Keunggulan jenis modul lainnya sebagai contoh thin film adalah dapat dibengkokan dalam hal pemasangannya dan harganya lebih menarik.

Pada saat radiasi semakin rendah, arus listrik yang dihasilkan oleh PV pun semakin berkurang. Sedangkan tegangan sendiri tidak terlalu terpengaruh oleh radiasi matahari yang datang ke PV. Jadi pada dasarnya PLTS adalah sumber arus bukan sumber tegangan listrik. Sedangkan, apabila temperatur semakin tinggi, tegangan akan berkurang sehingga daya akan berkurang juga. Temperatur dapat mempengaruhi sekitar 10% dari energi yang bisa kita manfaatkan.

Wahyu menegaskan bahwa inverter sangat dibutuhkan dalam konfigurasi modul surya karena listrik yang dihasilkan adalah DC sedangkan peralatan rumah tangga pada umumnya membutuhkan listrik AC. Inverter harus bekerja berdasarkan referensi tegangan dan frekuensi dari jaringan listrik PLN. Lain halnya dengan pemasangan baterai dalam modul surya dimana kita dapat menghasilkan grid sendiri sehingga PV inverter mengambil referensi tegangan dan frekuensi pada baterai.

Selanjutnya, diskusi dilanjutkan dengan topik aplikasi solar rooftop dalam kehidupan sehari-hari yang disampaikan oleh Eddo Besareardi sebagai Sales and Marketing Manager TML Energy. Beliau menyatakan bahwa jika ingin memasang solar PV rooftop, hal pertama yang harus diperhatikan adalah shading. Kita harus memastikan bahwa area yang akan dipasang modul surya tidak terkena bayangan. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah sistem kelistrikan yang ada di rumah atau kantor kita (satu atau tiga fasa). Hal ini ke depannya akan berpengaruh pada komponen yang perlu dipasang terutama inverter.

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga suatu PLTS terdiri dari: equipment, on site equipment, project cost, dan electricity cost.  Untuk rooftop skala kecil, komponen yang paling mahal adalah inverter karena harga inverter sangat bergantung pada kapasitasnya. Sedangkan untuk large scale, komponen yang paling berpengaruh untuk menentukan harga adalah modul surya. Harga modul surya dari tahun ke tahun menunjukkan trend menurun. Lain halnya dengan inverter, yang harganya dari tahun ke tahun relatif tetap. Namun apabila kita berbicara mengenai kapasitas, harga inverter menunjukkan penurunan signifikan pada kapasitas yang semakin besar.

Harga per watt peak adalah satuan yang merepresentasikan harga PLTS rooftop. Kondisi harga sangat penting untuk diperhatikan saat konsumen ingin membeli suatu modul surya. Inverter berpengaruh untuk balance of system. Perbedaan harga PLTS dapat berasal dari perbedaan komponen – sudah terinstall atau belum, dan ketersediaan garansi. Pada contoh kasus TML Energy dengan modul surya 9,6 kWp, pengehematan biaya tagihan listrik mencapai ~74% dengan penggunaan net metering.

No Comments

Post A Comment