Kopi Sore #9 – Fuel Cell Technology

Kopi Sore #9 – Fuel Cell Technology

Pada akhir Maret lalu, I CARE Indonesia Foundation mengadakan kopi sore dengan tema fuel cell di Wisma Kemang Lt.4. Charles Giroth, perwakilan dari Perusahaan Horizon Fuel Cell Technologies memperkenalkan fuel cell kepada para peserta Kopi Sore. Pada dasarnya, listrik dapat dihasilkan oleh fuel cell melalui hidrogen yang masuk ke anoda yang kemudian diproses menjadi elektron, lalu elektron yang mengalir akan menghasilkan listrik. Output dari pengoperasian fuel cell adalah air dan panas. Beliau menyampaikan bagian utama dari fuel cell adalah fuel cell stack. Di luar negeri selain sumber listrik, fuel cell juga digunakan sebagai pemanas. Teknologi fuel cell sendiri sudah mulai diperkenalkan sejak tahun 1800-an. Kemudian sekitar tahun 2000, berbagai riset mulai dilakukan di berbagai negara. Pada 2007, fuel cell sudah mulai dipasarkan secara komersial oleh Jepang dan Amerika. Indonesia bisa dibilang sebagai salah satu dari beberapa negara pelopor yang sedang beradaptasi dengan teknologi fuel cell.

Untuk dapat memanfaatkan hidrogen secara ekonomis, Charles mengungkapkan bahwa ketersediaan sumber hidrogen adalah unsur awal yang harus persiapkan. Selanjutnya, pemisahan hidrogen dari elemen lain dan strategi pendistribusian hidrogen ke lokasi yang membutuhkan juga harus dipertimbangkan dengan matang. Setelah itu, perlu direncanakan pula bagaimana penyimpanan hidrogen tersebut dan penggunaannya supaya tercipta suatu sistem fuel cell yang optimal. Charles merekomendasikan untuk memproduksikan hidrogen secara on site.

Charles menjelaskan bahwa alasan perusahaan Horizon Fuel Cell Technologies memakai proton exchange membrane karena fuel cell tipe tersebut menggunakan methanol dan air sehingga tidak adanya ‘after market use’ dan mengurangi terjadinya pencurian fuel seperti yang dapat terjadi pada penggunaan generator diesel.

Beberapa keuntungan fuel cell diantaranya adalah: tidak ada suara ketika beroperasi, tidak ada asap, tidak menghasilkan NOX, rendahnya emisi CO2, dan rendahnya polusi logam berat.

Penerapan fuel cell di Indonesia telah dilakukan oleh beberapa instansi dan dalam berbagai macam bentuk. Sebagai contoh, BPPT telah memproduksi suatu motor fuel cell. Kemudian fuel cell juga digunakan sebagai small data center backup. Ibu Eniya selaku Deputi BBPT juga telah melakukan riset dan menciptakan suatu membran yang bernama membrane ThamriON. Beberapa phone charger berbasis fuel cell juga sudah mulai tersedia di pasaran Indonesia. Fuel cell juga digunakan pada BTS di beberapa wilayah di Indonesia. Negara kita telah memiliki 700 lokasi fuel cell tanpa subsidi. Charles menyatakan bahwa dengan adanya fuel cell persentase Capacity Factor (CF) akan meningkat (sebagai contoh: jika dengan penggunaan panel surya dapat menghasilkan CF sebesar 50-60%, maka dengan menambahkan fuel cell akan dapat dihasilkan CF sekitar 99%)

Menurut Charles, Indonesia tidak akan kehabisan sumber energi alternatif dan Beliau berharap supaya riset akan selalu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keekonomisannya. “Buka mata, buka pikiran untuk perkembangan teknologi. Jangan lupa yang bagus untuk your children, your country, and your company,” pesan Charles mengakhiri Kopi Sore Maret.

No Comments

Post A Comment