#Kopi Sore 16 – Nuclear: Complication or Completion

#Kopi Sore 16 – Nuclear: Complication or Completion

Pada bulan Juni 2019, ICARE Indonesia menyelenggarakan acara Kopi Sore yang bertemakan “Nuclear, Complication or Completion” dengan tujuan mendiskusikan dan mengupas tuntas keingintahuan peserta mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang sedang hangat diperbincangkan.

Kopi Sore ICARE Indonesia pada kali ini dibuka dengan melakukan nonton bersama bagian akhir dari mini series Chernobyl, sebuah drama televisi lima episode produksi siaran televisi internasional, HBO. Miniseries Chernobyl menceritakan peristiwa kecelakaan nuklir pada tahun 1986 yang disebut-sebut sebagai malapetaka terbesar sepanjang sejarah yang dibuat oleh manusia – dan besarnya pengorbanan yang dilakukan untuk menyelamatkan eropa dari bencana besar yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya.

Setelah dilakukan pembukaan acara dengan menonton miniseries Chernobyl, bapak Dr. Eng. Topan Setiadipura, M.Si., M.Eng. selaku Nuclear Reactor Designer dari Badan Tenaga Nuklir Nasional atau disingkat sebagai BATAN, membuka diskusi umum mengenai “Nuclear, Complication or Completion ?”. Pak Setiadipura memulai dengan menjelaskan tipe-tipe PLTN berdasarkan bahan bakarnya, Pak Setiadipura menjelaskan reaktor nuklir fisi yang saat ini beroperasi sebagian besar menggunakan bahan bakar dari bahan fisil U-235. Dari 436 unit reaktor yang beroperasi pada tahun 2009 (data Power Reactor Information System IAEA, Maret 2009), 434 diantaranya memanfaatkan U-235 sebagai bahan bakarnya. Hanya ada dua reaktor pembiak yang dapat memanfatkan bahan fertil U-238. Pemanfaatan bahan bakar thorium masih belum populer di dunia. Berdasarkan sumber energi yang digunakan, nuklir(PLTN) dibagi menjadi 3 klasifikasi, yaitu

  • Reaksi Fisi, bahan bakar reaktor fisi adalah radioisotop yang dapat berfisi (fisil), yang dapat diperoleh di alam. Bahan fertil yang dibutuhkan sebagai bahan baku pembuat bahan fisil juga digolongkan sebagai bahan bakar reaktor fisi. Bahan fisil U-233, U-235, Pu-239 dan Pu-241 serta bahan fertil Th-232 dan U-238 adalah bahan bakar dari beberapa tipe reaktor fisi yang telah dikembangkan hingga awal abad 21 ini.
  • Reaksi Fusi, D-T (deuterium-tritium) dalam sebuah reaktor nuklir Tokamak membutuhkan deuterium dan tritium. Tritium dibuat dari lithium dalam reaktor fusi, dengan demikian bahan bakar reaktor fusi adalah deuterium dan lithium. Keberadaan deuterium dalam air laut sangat melimpah, dan dapat digunakan untuk pemakaian selama ratusan ribu tahun. Lithium sebagai bahan baku pembuat tritium cukup banyak terdapat di lapisan bumi, kuantitas cadangan lithium akan mampu memasok reaktor fusi selama beberapa ribu tahun. Tritium juga dapat dibuat dalam suatu reaktor nuklir, teknik ini akan sangat bermanfaat apabila cadangan lithium telah menipis.
  • Pilot Conversion Plant (PCP), Teknologi bahan bakar nuklir terkait dengan aspek kemandirian dalam persiapan reaktor daya, BATAN memiliki instalasi Pilot Conversion Plant (PCP). Hal ini merupakan capaian luar biasa setelah 20 tahun dinanti. Instalasi tersebut berfungsi mengubah bahan baku yellow cake menjadi serbuk UO2 yang akan dibuat pelet dan selanjutnya dirakit menjadi elemen bakar nuklir. Sebelumnya sudah ada instalasi fabrikasi selongsong untuk wadah serbuk tersebut. Instalasi percobaan itu memiliki kapasitas produksi 100 kilogram serbuk UO2 per hari. Selain nantinya untuk bahan bakar reaktor daya, keberadaan serbuk UO2 yang telah memenuhi derajat nuklir dan derajat keramik itu akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemasok UO2 di dunia. PCP BATAN sendiri telah mendapat izin komisioning selama setahun dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir.

Beliau menjelaskan bahwa ada tiga hal dasar penting untuk “Safety Features” yaitu:

  • Control
  • Cooling
  • Contain

Control merupakan fitur yang sangat penting dalam sistem “Safety Features” di saat fitur Control gagal/failed maka fitur lain seperti Coolingdan Contain otomatis akan gagal/failed  seperti yang terjadi di Chernobyl. Belajar dari kejadian di Chernobyl, seluruh PLTN generasi berikutnya telah menerapkan fitur Control yang lebih baik untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam hal Control.Namun, kejadian tsunami di Jepang pada tahun 2011 mengganggu fitur Cooling PLTN Fukushima sehingga suhu di reaktor nuklir menjadi gagal untuk dikendalikan dan menyebabkan kemampuan Contain menjadi tidak bekerja, sehingga kembali, kecelakan nuklir tidak dapat dihindari. Oleh karena itu perbaikan terus dilakukan untuk menciptakan sistem yang lebih baik, sehingga prasyarat PLTN yaitu, Control, Cooling, dan Contain menjadi sistem preventif yang wajib diterapkan pada sistem PLTN apabila ingin dikembangkan di Indonesia, ujar pak Setiadipura.

Kopi Sore kemudian dilanjutkan dengan diskusi dari Nadhilah Shani selaku Research Analyst of Policy Research and Analytics Programmedari Asean Center for Energy atau disingkat sebagai ACE. Diskusi berlangsung menarik dengan menggali perspektif yang lebih luas mengenai komitmen pengembangan PLTN oleh beberapa negara Asean, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Indonesia, pada era tahun 1970 – 1990 pemerintah mulai melakukan pengembangan riset fasilitas nuklir, dilakukannya feasibility study pada beberapa daerah yakni Site Muria, Site Banten, dan Site Bangka. Namun, tahap pengembangan program PLTN di Indonesia mengalami pasang-surut. Meskipun pemerintahan pada tahun 2010 menunjukan komitmen yang kuat, pada tahun 2014 melalui pp nomor 79, pemanfaatan energi nuklir menjadi opsi terakhir untuk dikembangkan apabila target pengembangan energi baru terbarukan tidak tercapai.

Malaysia, pada tahun 2008 pemerintah malaysia merencanakan pendanaan untuk mengembangkan riset energi nuklir dan memperbaharui kebijakan energi nasional, di tahun 2010 Malaysia mendirikan Nuclear Energy Programme Implementing Organisation (NEPIO) dan mendapatkan predikat sebagai best practice NEPIO. Malaysia kemudian merencanakan pembangunan PLTN di tahun 2021, namun di reschedule untuk dibangun pada tahun 2030 dan 2035.

Filipina, setelah mengalami krisis pada tahun 1973 mengenai krisis energi minyak, presiden Marcos memutuskan untuk membangun PLTN yang selesai dibangun pada tahun 1984 dan pada tahun 1985 telah selesai dilakukan uji kelayakan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA). Namun, disaat PLTN telah dianggap layak untuk beroperasi, pada tahun 1986, kecelakaan Chernobyl yang terjadi bersamaan dengan masa kepemimpinan presiden Marcos berakhir menjadi faktor diberhentikannya rencana PLTN di negara Filipina.

 Thailand, diantara negara Asean lainnya, Thailand merupakan negara yang paling banyak melakukan revisi terhadap rencana pengembangan PLTN di negaranya, dimulai dari tahun 1966 untuk mengembangkan PLTN dengan pembangkitan 600MW, ditunda hingga dua kali revisi PDP 2007-2021 untuk rencana awal pembangunan 4 x 1.000 MW menjadi rencana pembangunan 2 x 1.000 MW. Pada tahun 2010, perencanaan tambahan PDP 2010-2030 melalui PLTN 5 x 1.000 MW secara berkala untuk tahun 2020-2028. Kebijakan pembangunan PLTN terus direvisi dan penundaan yang dilakukan pemerintahan Thailand terakhir adalah PDP 2015 untuk pembangunan 2 x 1.000 MW ditahun 2035-2036

 Vietnam, merencanakan untuk mengembangkan PLTN yang akan beroperasional pada tahun 2028 dengan kapasitas pembangkit 1.200 MW. Namun hingga kini rencana konstruksi pembangunan PLTN ditahan oleh resolusi yang diusulkan pada Vietnam National Assembly di tahun 2016. Oleh karena faktor ekonomis dan rendahnya permintaan membuat perencanaan pembangunan PLTN tersebut ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan kapan.

Kondisi perkembangan terkini dalam kawasan ASEAN menunjukan bahwa beberapa negara Asean seperti Filipina yang memiliki PLTN 620 MW ‘Bataan’ siap untuk digunakan, masih mengkaji apakah dalam waktu dekat PLTN yang sudah ada tersebut akan difungsikan untuk ketahanan dan keamanan energi negara Filipina. Sedangkan Indonesia, melalui BATAN juga mengajukan rencana pengembangan small modular reactor sebagai strategi penyesuaian kebutuhan kelistrikan yang terpecah (scattered) di beberapa pulau seperti Jawa, Bali dan Sumatera, ujar Shani.

No Comments

Post A Comment