Kopi Sore #15 – Prinsip Dasar dan Perkembangan Kendaraan Listrik di Indonesia

Kopi Sore #15 – Prinsip Dasar dan Perkembangan Kendaraan Listrik di Indonesia

Kamis 25 April 2019 – Kopi Sore I CARE diadakan di SYNRGY Innovation Hub dengan (dari kiri ke kanan) Diwangkoro M. Dolaputra sebagai moderator, Albertus Gian sebagai perwakilan dari Beehive Drones, Pak Sukamdani, S.T., dari MIGO, dan Pak Ir. Ganesha Tri Chandrasa, M.Sc., M.Phil., dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

 

Berkolaborasi dengan Beehive Drones dan SYNRGY Innovation Hub, program akselerasi startup hasil kerja sama BCA dengan Digitaraya yang didukung Google, Kopi Sore I CARE Indonesia kali ini hadir berbeda dengan 3 pembicara dari format 2 pembicara yang biasa dibawakan. Perubahan ini dihadirkan agar diskusi dengan tema Electric Vehicle (EV) Basics And Development In Indonesia” dapat dikupas tuntas dan memenuhi keingintahuan peserta akan isu yang sedang hangat dibahas dalam kancah nasional maupun internasional ini.

 

Sebagai pembuka, Pak Ir. Ganesha Tri Chandrasa, M.Sc., M.Phil., dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membawakan diskusi umum mengenai ”Electric Vehicle (EV) Basics And Development In Indonesia”. Pak Chandrasa memulai diskusi dengan menjelaskan jenis-jenis EV yang sudah diklasifikasi oleh Department of Energy, Amerika Serikat. Berdasarkan sumber energi yang digunakan, EV dibagi menjadi 3 klasifikasi, yaitu,

 

  • Hybrid Electric Vehicles (HEV), yang menggunakan dua jenis mesin penggerak, yaitu mesin bensin dan motor listrik. Sumber energi listrik didapat dari pengisian baterai secara langsung dan juga sistem pengereman regeneratif.
  • Plug-in Hybrid Elevtric Vehicles (PHEV), yang juga menggunakan dua jenis mesin penggerak, mesin bensin dan motor listrik. Berbeda dari HEV, sumber energi listrik PHEV didapat dari sistem pengereman regeneratif dan juga pengisian sel baterai secara langsung dengan menghubungkan mobil dengan sumber listrik.
  • Battery Electric Vehicles (BEV), adalah EV dengan teknologi paling mutakhir karena hanya menggunakan motor listrik saja sebagai mesin penggerak utama. Energi listrik yang digunakan pun hanya didapat dari pengisian baterai secara langsung. Selain menggunakan sel baterai, mobil jenis BEV juga dapat menggunakan fuel cell sebagai sumber energi listrik.

 

Beliau menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan motor listrik sebagai penggerak kendaraan, maka akan menghemat biaya operasional karena tidak menggunakan bahan bakar minyak sebagai sumber energi. Selain itu, motor listrik tidak menghasilkan emisi gas dan polusi udara, tidak seperti mobil konvensional. Namun hal ini masih diperdebatkan karena menurut regulasi internasional, kendaraan bermotor perlu memiliki suara agar aman untuk dikendarai dan tidak berbahaya bagi pengendara lain serta orang-orang yang berada di sekitar jalan.

 

Agar EV dapat berkembang hingga 30% jumlah produksi kendaraan bermotor roda 4 maupun roda dua di tahun 3035 nanti, Pak Chandrasa menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia harus mampu merangkul semua stakeholder terkait. Selain itu, Pemerintah juga harus merampungkan regulasi-regulasi yang mengatur industri EV, mulai dari perpajakan EV, hingga insentif fiskal bagi pengguna EV.

 

Kopi Sore kemudian dilanjutkan dengan diskusi dari Pak Sukamdani, S.T., dari MIGO, layanan Ebike sharing app pertama di Indonesia. MIGO sendiri adalah layanan aplikasi dimana penggunanya bisa menyewa Ebike, sepeda listrik, dengan biaya yang terjangkau. MIGO merupakan solusi bagi commuter  untuk menghadapi lalu lintas kota yang padat. Selain itu MIGO memberikan kesempatan bagi pengguna untuk mencoba mengendarai Ebike, moda transportasi yang masih belum populer di Indonesia, serta membuka lapangan pekerjaan baru sebagai partner MIGO.

 

MIGO memanfaatkan sepeda listrik berkapasitas 1 penumpang dengan batas kecepatan 40 km/jam sehingga bisa digunakan tanpa harus memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) A. Dengan proporsi sepeda yang mungil serta ringan, Ebike MIGO ramah untuk digunakan segala kalangan. Cukup dengan membayar 3000 Rupiah saja, pengguna dapat merasakan sensasi berkendara menggunakan Ebike selama 30 menit yang mampu menjangkau jarak 40-60 km.

Dalam penggunaannya, setiap pengguna dipersilahkan untuk mengambil dan mengembalikan Ebike ke stasiun yang terdekat yang ditunjukkan melalui aplikasi di handphon. Kini MIGO telah tersedia di Jakarta dan Surabaya dengan jumlah total stasiun mencapain 500 stasiun. Terdapat 4 peraturan utama dalam mengendarai Ebike MIGO, yaitu,

  1. Berusia minimal 17 tahun.
  2. Menggunakan helm MIGO yang telah disediakan.
  3. Tidak berboncengan.
  4. Patuhi rambu lalu lintas.

 

Pak Sukamdani juga menjelaskan bahwa dalam perkembangannya MIGO telah melalui banyak tantangan dan kini terus tumbuh pesat hingga mencapai 500 registrasi pengguna baru tiap harinya. Regulasi menjadi salah satu isu besar yang perlu dijawab terkait Ebike, EV yang menjadi sarana utama dalam MIGO.

 

Terakhir, Kopi Sore diisi oleh Pak Albertus Gian, S.T., DIC, M.Sc., Founder Beehive Drones. Beliau memberikan penjelasan tentang EV lainnya yaitu UAV, Unmanned Aerial Vehicle. UAV pertama kali diciptakan sebagai pesawat listrik nirawak yang bertujuan untuk memberikan serangan udara pada kancah peperangan. Namun seiring perkembangan jaman dan teknologi kini UAV lumrah dikembangkan untuk tujuan lainnya seperti remote sensing, perekaman film komersial, eksplorasi minyak bumi, bantuan bencana, hingga penggunaan rekreasi.

 

UAV sendiri terdiri dari beberapa komponen utama yaitu,

  • Badan pesawat
  • Sumber energi : baterai, kabel darat, ataupun sel surya.
  • Computing & Sensors
  • Software & Actuators
  • Flight controls & Communications

 

Teknologi UAV sendiri sudah mulai dikembangkan semenjak tahun 1986, dan terus didukung dengan perkembangan teknologi dan regulasi terbaru. Kini banyak perusahaan aviasi ternama seperti Boeing dan Airbus yang turut serta mengembangkan UAV sehingga membuat kompetisi sektor ini menjadi sangat ketat. Salah satu metode pengembangan UAV adalah dengan mengimitasi tingkah laku hewan yang mampu terbang untuk meningkatkan efisiensi serta daya tahan Uav.

 

Pak Gian juga memaparkan bahwa untuk UAV dapat berkembang di Indonesia terdapat tantangan-tantangan yang juga perlu diselesaikan. Tidak jauh berbeda dengan EV lainnya, selain tantangan mengenai teknologi perangkat keras dan lunak, UAV memerlukan regulasi yang jelas agar dapat berkembang sesuai dengan kultur dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Regulasi UAV internasional mungkin lebih maju namun belum tentu cocok untuk diterapkan di Indonesia dengan norma dan kebiasaan masyarakat yang jauh berbeda.

 

Ditulis oleh: Hilman Prasetya Edi

 

 

 

 

 

 

No Comments

Post A Comment