Kopi Sore #13 – Internet of Things for Energy

Kopi Sore #13 – Internet of Things for Energy

Pada akhir bulan Februari 2019, I CARE Indonesia kembali menyelenggarakan acara Kopi Sore yang bertemakan “Internet of Things for Energy” khususnya dalam pengembangan Renewable Energy dan efisiensi energi yang berlokasi di Gedung Wisma Kemang I CARE Indonesia. Kopi sore ini dihadiri oleh 34 peserta dari berbagai latar belakang pendidikan maupun pekerjaan. Pada kesempatan ini pula, I CARE Indonesia mengundang pemateri yaitu Pak Randy Budi Wicaksono sebagai Technology Solution Consultant di Ravelware Technology dan Pak Ryan Putera Pratama Manafe selaku CEO PT. Surya Utama Nusantara.

Pada awal sesi-1, Pak Randy menjabarkan terkait pentingnya peran lampu dalam suatu industri. Beliau menegaskan bahwa peran lampu sangat vital terutama dalam hal produktivitas suastu industri. Faktor cahaya bukan hanya dapat membebani konsumsi listrik industri melainkan juga dapat menurunkan produktivitasnya jika tingkat kecerahan (LUX) lampu tidak sesuai dengan yang seharusnya. Salah satu contohnya yaitu cahaya yang terlalu terang dapat menyebabkan glare pada karyawan sehingga karyawan tidak mampu bekerja optimal.

Apa saja jenis-jenis pencahayaan?

  1. Tier 1 (Tradisional): Biasanya berbahan merkuri dengan tujuan untuk menerangi ruangan tanpa memikirkan efisiensi dan dampak bagi karyawannya.
  2. Tier 2 (LED): Tingkat kecerahan meningkat dari Tier 1, namun tingkat kecerahan tidak cukup efisien karena dalam beberapa kasus kebutuhan ruangan dengan kecerahan yang diberikan LED tidaklah sama, melainkan berlebih yang akhirnya menimbulkan inefisiensi.
  3. Tier 3 (Smart Lighting LED): Untuk mempertahankan brightness meskipun terjadi kondisi lingkungan yang berubah-ubah, seperti terjadi mendung, hujan, dan panas terik. Tingkat kecerahan yang diberikan akan selalu konstan sesuai dengan angka yang telah di set sebelumnya.

Apa saja kelebihan Smart Lighting LED?

  1. LED lebih sedikit mengonsumsi daya listrik (Energy saving)
  2. Lifetime sekitar 5 tahun dengan jaminan selama 5 tahun lampu tidak akan redup (memiliki LUX yang konstan)
  3. Konektivitas yang terpusat sehingga ketika terjadi lampu yang rusak/mati, maka operator dapat secara langsung mengetahui melalui komputer, tanpa harus mengelilingi gedung industri.
  4. Tingkat kenyamanan karyawan dapat meningkat sehingga produktivitas dapat meningkat

 

Untuk mendukung argumennya, Pak Randy memaparkan sebuah data terkait pemanfaatan Smart Lighting LED dalam suatu industri. Hasilnya adalah produktivitas meningkat sebesar 8% dan energy saving di suatu industri dapat berkurang sekitar 30 – 47,17%.

 

Bagaimana Smart Lighting LED dapat mengurangi konsumsi daya listrik industri?

Pada umumnya, ketika suatu industri sedang beroperasi, maka seluruh sudut ruangan perlu mendapat pencahayaan dengan tingkat LUX yang sama dan lampu akan menyala hampir setiap saat. Alhasil, peningkatan kebutuhan listrik akan cukup besar dan menjadi salah satu beban bagi industri tersebut.

Smart Lighting LED hadir dengan tujuan utamanya untuk mengurangi daya listrik industri yang akhirnya dapat mengurangi beban industri serta meningkatkan produktivitas karyawan dalam bekerja. Caranya adalah dengan mengontrol hidup dan matinya lampu menggunakan sensor manusia serta sensor cahaya untuk mempertahankan LUX di suatu ruangan.

 

Implementasi Energi Terbarukan Melalui Kolaborasi dengan BUMD

Pada materi ke-2, Pak Ryan Putera Pratama Manafe mengawali sesinya dengan memutar dua video yang berisi kondisi perusahaan yang telah dilistriki oleh PLN kemudian berusaha untuk go green dengan menggunakan renewable energy dan kondisi kedua yaitu daerah yang belum dilistriki oleh PLN. Pada kondisi pertama perusahaan tersebut enggan untuk memakai panel surya untuk memenuhi kebutuhan listriknya karena dianggap cenderung mahal dan lebih baik uang tersebut digunakan untuk membeli mesin yang baru daripada membeli panel surya. Pada kondisi yang kedua, SUN sebagai Renewable Energy Service Company (RESCO) berusaha membantu daerah terpencil tersebut.

PT. SUN bekerjasama dengan BUMD dan BUMD akan bekerja sebagai PLN seperti Bekasi Power. PT. SUN mempunyai peran untuk memberikan listrik ke BUMD agar dapat menerangi 15.000 desa di Indonesia.

Dalam pengembangannya, PT. SUN memiliki kendala dari segi financing. Investor dan bank telah kehilangan kapabilitas dalam mendanai pengembangan PT. SUN, namun animo masyarakat Indonesia (pemerintah) bahkan luar negeri (GIZ dan FinnFund) sangat tinggi.

Melihat animo yang sangat tinggi, PT. SUN mempunyai inovasi utama untuk membuat platform untuk mempertemukan project developer dengan investor sedangkan inovasi lainnya yaitu pengembangan drone untuk maintenance dan mengenal hal-hal yang mengurangi efisiensi panel surya, seperti kotoran hewan. Inovasi lainnya yaitu dengan menerapkan panel surya bukan hanya di atas rumah/gedung, melainkan di berbagai tempat, seperti kaca rumah, aspal, dan trotoar. PT. SUN juga mulai menerapkan tele-monitoring yang dapat diakses oleh pengguna sistem panel surya melalui aplikasi yang terinstall di handphone atau laptop.

 

Pandangan BPPT Mengenai Energi Terbarukan dan IOT

Selanjutnya, Bapak Dr. Mohammad Mustafa Sarinanto selaku kepala B2TKE BPPT memaparkan sedikit pandangan BPPT mengenai energi terbarukan.

Pak Mustafa mengatakan bahwa masalah energi adalah masalah yang pelik dan menarik untuk dipelajari. Pada dasarnya, posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa memberikan dampak ketersediaan energi yang melimpah dan beragam. Mulai dari energi surya yang melimpah akibat wilayah Indonesia yang selalu terpapar sinar matahari, tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik sehingga menghasilkan biomassa, bioethanol, dan lainnya, serta area ring of fire yang melawati Indonesia sehingga Indonesia memiliki potensi yang baik dari segi energi geothermal.

Berdasarkan RUPTL 2019, dikatakan bahwa smart grid, electric vehicle, dan PV rooftop direncanakan untuk dapat diimplementasikan. Salah satu bentuk keseriusan pemerintah dapat terlihat dari rencana ketuk palu Perpres mengenai kendaraan listrik di bulan Maret 2019.

Salah satu hal yang dibahas oleh Pak Mustafa adalah PLTS. Permasalahan PLTS adalah efisiensinya dibawah 20% karena efektifnya hanya 4 jam dan pengoperasiannya manual, belum smart grid. Hal lainnya adalah diperlukan baterai untuk untuk menyimpan energi. Maka dari itu diperlukan solusi untuk mengatasi permasalahan baterai dengan menjaga keluaran daya yang konstan serta usia baterai yang lebih tahan lama.

Beliau menambahkan, EBT dan IoT akan dilakukan pada smart grid agar dapat mengendalikan beban, sumber daya, dan hal lainnya. Maka dari itu BPPT telah memiliki 2 fast charging station yang energinya dibangkitkan dari panel surya. Tujuannya untuk memperkenalkan EBT ke khalayak umum.

 

Ditulis oleh: Revo Gilang Firdaus M

No Comments

Post A Comment