Kopi Sore #12 – Panas Bumi: Potensi, Pertumbuhan, dan Tantangan Masa Depan

Kopi Sore #12 – Panas Bumi: Potensi, Pertumbuhan, dan Tantangan Masa Depan

Kopi Sore pertama I CARE tahun 2019 mengangkat topik “Panas Bumi: Potensi, Pertumbuhan, dan Tantangan Masa Depan.” Berlokasi di Gedung PT Rekayasa Industri, Kopi Sore Januari 2019 dihadiri oleh sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang keilmuwan dan keprofesian. Pada kesempatan ini, I CARE Indonesia mengundang dua pembicara yaitu Pak Marino C. Baroek dari PT. Supreme Energy dan Pak Ardian Sapartomo, VP Business Development, PT. Rekayasa Industri.

Apa itu panas bumi?

Pak Marino menjelaskan bahwa panas bumi adalah tenaga panas yang tersedia dari dalam bumi yang bisa mencapai ke permukaan untuk dijadikan energi. Konsep ini mirip dengan memasak air menggunakan ceret, dan api di kompor sebagai sumber panas. Jadi pada dasarnya panas bumi adalah memanaskan air dalam reservoir yang terdapat di dalam bumi. Uap yang keluar dari ceret menggambarkan uap yang keluar dari permukaan bumi yang kemudian dimanfaatkan untuk keperluan manusia.

Bagaimana cara mendapatkan panas bumi?

Panas bumi didapat dengan cara mengebor daerah yang berpotensi mengandung panas bumi dengan suhu paling rendah 230 oC. Daerah yang berpotensi memiliki energi panas bumi biasanya berasosiasi dengan gunung berapi, karena pada dasarnya gunung api memiliki panas yang muncul hampir mendekati permukaan.

Uap yang muncul dari hasil pengeboran kemudian dapat digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan energi listrik. Ini disebut dengan pemanfaatan secara tidak langsung karena uap panas bumi dikonversi terlebih dahulu sebagai energi mekanik sebelum dapat digunakan sebagai energi listrik. Sedangkan contoh pemanfaatan langsung adalah uap panas bumi  ditempat-tempat pemandian air panas, dengan temperatur 40-60 oC, pemanfaatan jenis ini sudah terkenal di daerah Garut, Subang, hingga Jepang.

Apa saja elemen penting dalam panas bumi?

Elemen penting dalam panas bumi adalah:

  1. Sumber panas
  2. Reservoir yang mengalirkan dan mensirkulasi air tersebut.
  3. Tanah tudung atau tanah liat, yang berfungsi untuk menahan uap panas bumi.

Negara yang pertama kali mengembangkan panas bumi adalah Italia, lalu Amerika dan Indonesia. Panas bumi banyak ditemukan di Indonesia karena Indonesia berlokasi di batas antar lempeng benua.

Unsur vulkanik erat kaitannya dengan batas antar lempeng. Pertemuan antar lempeng akan menghasilkan sedikit banyak gunung api yang berasosiasi dengan panas bumi. Indonesia, Filipina, Jepang, dan Turki merupakan daerah yang dilewati oleh ring of fire (cincin api).  Oleh karena itu di daerah yang memiliki potensi-potensi panas bumi sudah terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau masih dalam proses seperti Sumatera, Jawa, Flores dan Sulawesi.

Bagaimana risiko dan biaya dalam tahap pengembangan panas bumi?

Dalam mengembangkan panas bumi, Pak Marino menjelaskan bahwa pada tahap awal pengembangan akan memiliki risiko yang lebih tinggi daripada biaya yang diinvestasikan. Karena pada tahap awal pengembangan masih terdapat risiko kegagalan seperti tidak ditemukannya potensi panas bumi yang ekonomis. Risiko kegagalan akan berkurang drastis apabila telah dilakukan aktivitas pengeboran. Dengan melakukan pengeboran akan terpetakan potensi uap yang ada. Biaya yang paling tinggi dengan risiko terendah adalah  tahap konstruksi PLTP. Tahap eksplorasi panas bumi hingga selesai tahap konstruksi PLTP dan dapat mendistribusikan listrik membutuhkan waktu selama 7-10 tahun.

Bagaimana Langkah-langkah eksplorasi panas bumi?

Langkah-langkah eksplorasi panas bumi adalah:

  1. Eksplorasi area yang berpotensi untuk memiliki panas bumi dengan dua metode, salah satunya dengan mencari sumber mata air panas atau uap panas yang keluar dari permukaan.
  2. Menghitung potensi yang ada di lokasi tersebut dengan mengukur temperatur dan tekanan dari fluida yang keluar.
  3. Mengevaluasi karakter dan unsur-unsur yang ada dalam fluida tersebut, salah satunya dengan mengukur pH dan kadar senyawa asam serta silika.

Terakhir Pak Marino menunjukkan gambar-gambar tempat maninvestasi di bumi yang sangat menarik, salah satunya adalah Kawah Ijen yang memiliki aroma seperti telur busuk. Pemandangan kawah yang bagus ternyata memiliki suhu yang sangat tinggi dan berbahaya.

Selanjutnya materi kedua disampaikan oleh Pak Ardian Sapartomo selaku VS Business Development, PT. Rekayasa Industri. Beliau menjelaskan tentang potensi, pertumbuhan dan tantangan masa depan dalam panas bumi. Sebelum memaparkan materinya, beliau memperkenalkan PT. Rekayasa Industri. PT Rekayasa Industri adalah badan usaha milik negara yang mengembangkan sektor industri di Indonesia dalam bidang teknik, pengadaan dan konstruksi untuk pabrik industri. PT. Rekayasa Industri ini didirikan pada 12 Agustus 1981. Klien yang pernah bekerjasama dengan PT. Rekayasa Industri antara lain adalah PLN, Pertamina, Pertamina Geothermal Energy, Supreme Enegy, Pupuk Indonesia dan lain-lain.

Di awal presentasi, Pak Ardian sedikit membahas tentang sejarah panas bumi di Indosesia. Panas bumi ditemukan di masa penjajahan Belanda pada tahun 1918 di Kawah Kamojang yang kini dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik sebesar 30 MW oleh PLN semenjak tahun 1980 dengan memanfaatkan pembiayaan dari Jepang.  PT. Rekayasa Industri sebagai perusahaan EPC memulai pembangunan di sektor panas bumi dari hanya sebagai subkontraktor saja, dan terus berkembang hingga menjadi kontraktor utama seperti yang saat ini dikerjakan dalam proyek di Sumatera (Muara Laboh) milik Supreme Energy.

Pengembangan geothermal akan selalu berangkat dari rencana usaha pendirian tenaga listrik (RUPTL) yang dibuat oleh pemerintah melalui Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Indonesia mempunyai banyak sumber energi sebagai pembangkit listrik, tetapi selalu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dipilih sebagai pembangkit listrik utama karena potensi batubara Indonesia yang melimpah. Namun saat ini Indonesia memiliki 4583 MW PLTP terpasang, dan akan terus bertambah untuk megurangi penggunaan batubara di masa depan. Di tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia dalam Top 10 Geothermal Countries. Pak Ardian menyampaikan bahwa 10 tahun ke depan Indonesia masih sangat berpotensi mengembangkan geothermal.

Saat ini terdapat lebih dari 10 lokasi panas bumi yang sudah terpasang PLTP, termasuk yang baru saja selesai konstruksi Sarulla 330 MW. Pembangkit iniakhirnya bisa terpasang semenjak eksplorasi di tahun 1947, dan akhirnya bisa terpasang di masa Pemerintahan saat ini. PLTP Sarulla cukup lama dibangun karena melibatkan pembiayaan dari berbagai negara. PLTP Sarulla ini adalah pembangkit tipe binary terbesar di dunia dan pembangkit binary pertama di Indonesia.

Pengembangan geothermal memiliki  banyak tantangan, pertama adalah kondisi alam, karena biasanya sumber uap panas bumi berada di pegunungan maka waktu kerja akan menjadi terbatas. Waktu kerja efektif hanya dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang. Kedua, yang sangat menantang adalah kondisi masyarakat, membangun PLTP di pegunungan memiliki hubungan dengan masyarakat yang tinggal di pegunungan.Tidak sedikit masyarakat yang mengeluh jika ada pembangunan pembangkit listrik karena menurut mereka akses jalan menuju pegunungan terhambat dan masyarakat berpendapat bahwa pembangunan PLTP akan merusak alam. Ketiga, jika pembangunan pembangkit listrik dilakukan di hutan lindung, maka kontraktor harus menjaga alam dan  menjalankan survei vegatasi alam. Terakhir, pemanfaatan tenaga kerja lokal (local hire) agar masyarakat merasa ikut andil (social engagement) dalam pembangunan pembangkit listrik.

Dalam pengembangan geothermal, Indonesia memiliki banyak resources, tetapi perlu banyak bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan dengan penyedia sumber dana. Lalu keberpihakan Pemerintah juga perlu ditingkatkan, karena pembangunan geothermal ini banyak dilakukan di daerah-daerah yang belum terjamah oleh Pemerintah.  Dan yang paling penting, Pemerintah perlu membuat inovasi regulasi agar tarif listrik dari panas bumi dapat tetap kompetitif terhadap pembangkit lainnya sehingga dapat menarik investor dan mengakselerasi pertumbuhan PLTP di Indonesia.

 

Ditulis oleh: Dewi Poedjawati dan Hilman Prasetya

No Comments

Post A Comment