Kopi Sore #10 – Waste to Energy

Kopi Sore #10 – Waste to Energy

Kopi Sore ICARE Indonesia kembali hadir pada Kamis 26 April yang lalu dengan mengangkat topik Waste to Energy di kantor General Electric (GE) Indonesia. Pak Rudolf Aritonang selaku SE Sales Leader GE Power menyatakan bahwa berdasarkan data GE sebagai technology supplier, 70% penjualan pada tahun 2017 berasal dari sektor biogas yang merupakan kategori non-LNG. Beliau juga menjelaskan bahwa kondisi yang terjadi di tempat pembuangan akhir sampah di Indonesia adalah semua sampah bercampur menjadi satu. Sampah merupakan permasalahan terbesar di kota manapun. Permasalahan sampah tersebut meliputi aspek: waste, land availability, cost, environment, health, dan city aesthetic.

Waste-to-energy pada prinsipnya adalah mengkonversikan municipal solid waste (MSW) menjadi energi listrik dengan menggunakan gasifier dan generator. Gasifikasi tidak hanya menghasilkan listrik namun juga dapat digunakan untuk jet fuel.

Pak Rudolf memaparkan penjelasan mengenai teknologi gasifikasi yang merupakan salah satu jenis dari ‘Thermo-chemical Conversion’. Pada gasifikasi, sampah dipanaskan di dalam suatu wadah untuk menghasilkan gas yang nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Suhu tinggi dalam proses gasifikasi yang dapat mencapai ±2000oC berfungsi untuk mengurai semua sampah menjadi karbon. Komponen utama gasifikasi adalah CO dan H2.

Di sisi lain, pengolahan sampah juga dapat dilakukan dengan cara pembakaran. Namun, terdapat beberapa kekurangan apabila kita mengolah sampah melalui pembakaran:

  • Temperaturnya rendah (<900oC) sehingga capexnya rendah
  • Banyaknya abu yang dihasilkan
  • Efisiensi dan energy recovery yang rendah

Sebagai perbandingan, dari pembakaran 0,9 kg bambu dapat menghasilkan 1 kWh sedangkan dari gasifikasi mampu menghasilkan 3-4 kWh dengan massa bambu yang sama. Sedangkan apabila ditinjau dari segi environmental friendly, gasifikasi sampah lebih mengungguli natural gas.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Pemaparan dari Ibu Nidiya Sari dan Pak Gangga yang merupakan perwakilan dari PT. PP (Persero) Tbk mengenai studi kasus suatu Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Jawa Tengah yang menerapkan teknologi pirolisis. Pirolisis adalah suatu proses dimana sampah diolah di dalam suatu wadah menjadi char dan gas yang kemudian digunakan untuk menghasilkan listrik atau bahan bakar lainnya. Sampah kota masuk ke wet storage (ditampung selama 3-4 hari) dengan kompisisi yang terdiri dari 200-250 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama (berasal dari landfill)

Sampah tersebut kemudian dijadikan homogen supaya menghasilkan keluaranyang maksimal. Ibu Nidiya menyampaikan bahwa PLTSa di Jawa Tengah tersebut dapat menghasilkan listrik sekitar 10 MW dengan kapasitas sampah sebesar 300-350 ton dengan menggunakan 12 mesin.

Menurut Pak Gangga, prospek PLTSa sangat menjanjikan mengingat jumlah sampah yang meningkat hari demi hari.

Terakhir, Ibu Nidiya menegaskan bahwa “Sharing knowledge is a must”

 

No Comments

Post A Comment