Fikih Energi Terbarukan

Fikih Energi Terbarukan

Dalam nuansa Ramadhan ini, I CARE Indonesia bermaksud mengangkat tema tentang Pandangan dan Respons Islam mengenai sumber-sumber energi terbarukan.

Diskusi dalam artikel ini akan mengambil buku yang disusun oleh KEMALA (Konsorsium Energi Mandiri Lestari) sebagai referensi. KEMALA sendiri adalah sebuah konsorsium yang terdiri dari LAKPESDAM-PBNU, Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Pusat Studi Energi UGM, dan CCES Yogyakarta.

Jadi, mengapa kita perlu mengkaitkan teknologi dengan agama?

Apabila kita amati perkembangan teknologi yang ada hingga saat ini, inovasi seperti bom nuklir, pesawat hingga komputer apabila digunakan tanpa moralitas serta etika maka dalam pengaplikasiannya dapat membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan untuk masyarakat luas. Oleh karena itu, teknologi energi terbarukan seperti panel surya, turbin air sampai fuel cell pun perlu diarahkan dalam pemakaiannya agar dapat membawa kebaikan dan manfaat.

Energi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, hal ini semakin nyata dirasakan dalam keseharian kita dengan meluasnya penggunaan alat elektronik dalam setiap aspek kehidupan. Bicara mengenai energi sama halnya dengan berdiskusi mengenai hidup manusia beserta keberlanjutannya.

Seperti yang kita ketahui, ketidakstabilan harga bahan bakar fosil berpengaruh langsung terhadap harga listrik. Selain itu, saat ini dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas penggunaan bahan bakar fosil adalah krisis global yang menjadi perhatian utama pemimpin-pemimpin dunia. Kondisi ini membuat energi alternatif yang bersih, terjangkau, dan dapat diandalkan menjadi sebuah kebutuhan yang mutlak harus dikembangkan.

Berbicara mengenai dampak lingkungan, tidak sedikit yang menganggap bencana alam yang menimpa manusia merupakan takdir dari Tuhan. Meskipun hal tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi manusia hendaknya merespon peristiwa bencana dengan berefleksi — bencana yang datang dapat disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri. Seperti firman Allah dalam ayat berikut:

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban manusia untuk menjaga kelestarian alam tempat tinggalnya, seperti firman Allah dalam ayat berikut:

Dari kedua ayat di atas, dapat dilihat bahwa dukungan terhadap pemakaian energi alternatif tidak hanya datang dari aspek sosial, ekonomi, dan politik, tetapi juga dari segi agama. .

Di dalam Islam, dukungan yang dimaksud bukanlah pernyataan halal atau haramnya penggunaan energi alternatif, melainkan arahan dalam praktek pengaplikasian inovasi atau pembangunan proyek energi terbarukan agar aktifitas terkait mendatangkan maslahat, bukan malah mudlarat atau mafsadat.

Jika meninjau ketersediaannya, bahan bakar fosil memiliki keterbatasan dalam melayani kebutuhan energi manusia. Sedangkan, sumber energi terbarukan seperti matahari, air dan angin tersedia dalam waktu yang tidak terbatas. Jika ditinjau dari lingkungan, emisi karbon dari bahan bakar fosil juga dapat mencemari udara dan dalam jangka panjang dapat berkontribusi signifikan dalam pemanasan global.

Dilihat dari mafsadatnya, energi terbarukan layak didahulukan daripada energi fosil karen masfadatnya lebih sedikit. Sebagaimana kaidah fikih berikut

 

Selain pertimbangan keunggulan energi terbarukan dari sisi maslahat dan mafsadatnya, keutamaan pemanfaatan lahan untuk pembangkit energi terbarukan pun diarahkan dalam Islam. Pembahasan selengkapnya tersedia pada buku Fikih Energi Terbarukan yang dapat diakses pada tautan berikut.

No Comments

Post A Comment